Rabu, 29 April 2015

A poem for Nakane




Api Malam
Malam biasanya tak akur dengan api
Tapi malam ini mereka seperti berkawan baik
Api terang, malam gelap bersatu dan sejiwa
Bakar, bakar!!
Bakar, bakar!!
Api menyala, asap menggumpal
Rumah terbakar, anak menangis
Beringin tua, di tengah kampong beta telah rubuh
Dua Pombo putih telah bersua ajal lebih dulu
Harum cendan dan bunga kenangan bagai wangi maut
Menusuk dan merusak raga, membunuh jiwa lemah
Terbakar damar menjadi dupa duka di makam nenek moyangku
Kisah kami nyaris terhenti paksa
Rentetan saksi nyaris mengubur mimpi
Palu hakim memaksan membunuh asa
Tanah jadi taruhan, nyawa dirongrong duka
Asa belum hilang dari dari raga kami!!
Asa kami masih menyatu padud engan raga!!
Tebang jati tanam cengkih
Tebang jati tanam pala
Tebang jati tanam kayu besi dan lenggua
Tanam masa depan kami anak negeri!

Rusaku



Rusaku
Rusaku kuat berlari melintas igunung serta anak gunungnya
Sanggup meretas jalan baru dengan lebih cepat
Rusaku terus berlari semakin jauh, aku mendapatinya dan berceritera
Tak ada yang mengikutimu
Tak ada yang mengejarmu
Tidak !api mengejarku dari belakang tadi
Mereka memberondongku dengan sejuta peluru
Mereka samar-samar di pekatnnya malam, merek aberba juloreng
Ayahnnya telah mati,dadanya tertembus timah panas
Merobek hati yang keras seperti batu
Keras mempertahankanTanahnya, tanah leluhur
Dia jadi yatim..
Ibunya juga mati, mati kepanasan tak ada tempat untuk bernaung
Tak sanggup hanya di bawah bawah daun kelapa sawit
Sekaran g rusaku telah yatim piatu !
Terusir dari tanah leluhurnya
Melarat …
kalalerang
Oh malangnya rusaku
Teringat di bawah rerimbunan pohon kayu besi, dan lenggua
Harum damar dan kenangan
Hilanglah rumahnya tak berbekas.

Aktivis Mati



AktivisMati
Dulu mereka terkesan beringas membela kebenaran
Dengan microphone berteriak di tengah jalan
Katannya membela kebenaran
Katanya lagi untuk rakyat
Katanya, dan
Katanya,
Sekarang kami rindu yang katannya itu
Tapi katanya lagi mereka sudah mati
Mati akal
Mati gaya
Mati bicara
Mata mereka gelap tertutup segembok uang merah
Mulut mereka terkatup rapat dengan gembok berbau kolusi
Oh, kasihan aktivis yang mati itu.

Puisi untuk Negeri



Lara di Belantara
Lara di belantara, belantara Nusa Ina
Lara penyumbat suka pembuka luka
Dari hati anak Negeri
Dari hati anak hutan tepatnya
Ini tangisan hati yang tak sampai keluar
Di himpit batu suka, batu nisan nanti jadinya
Hutan di babat
Hutan di bakar
Pohon di tebang
Pohon tumbang
Gundul !!
Gundul !!
Hijau lagi
Hijau lagi
Hijau daun kelapa sawit,
“Kembali dan bekerja, bedebah !” gertak mandor
Anak negeri di seram utara jadi hamba, jadi budak di tanah sendiri
Lara bertambah luas, makin menjadi-jadi menutup suka
Tangisan menggema membelah belantara Nusa ina.

Kamis, 23 April 2015

Berikan aku nama



Berikan Aku Nama
Berikanlah aku nama wahai puteri
Nama yang tak di pakai laki-laki lain di tanah ini
Agar aku menjadi bangga punya nama sendiri
Lain dari nama yang aku suka
Lain dari nama yang aku benci
Wahai Mapina Nusa ina e
Jangan nama yang sakral, nanti aku dikira orang suci
 Jangan pula nama yang pernah ada di nisan kayu gadihu
Berikanlah dalam bahasa hutan, dalam bahasa laut
Dengan bahasa tanah airku.
Nama yang di terbangkan Masariku, waktu angin sibu-sibu
Saat matahari berencana turun ke peraduannya
Berikanlah saat  wangi cendana membunuh Pombo putih
Dan merasuk membusuk akar beringin
Hingga saatnya nanti aku tak takut menantang langit.