Ada Cinta di puncak gunung
Binaya
Panas dan
dinginnya cuaca saling bergantian, seolah hanya mereka yang berada di puncak
gunung bertaburan ribuan kayu yang setiap batangnya dari kejauhan tampak hanya
bagai secuil kotor di ujung kuku, namun berdiri kokoh dan terhempar luas di
seluruh gunung dan anak gunungnnya, kayu-kayu macam lenggua, maholi,samama,dan
besi yang rata-rata diberi nama oleh penduduk sekitaran gunung itu.tetapi
perlahan semua kayu tadi makin bertambah
besar bahkan terlihat tingginnya seraya
seorang lelaki muda melaluinnya,namun semua itu terasa berbeda dengan seorang
ini. Dengan tubuh yang kurus dirinya seorang diri berani menembus hutan
belantara itu, yah hanya dia sendirian dengan di topang dua kaki terkuatnnya sambil
memikul tas ranselnya yang hitam besar dia berjalan sendirian melewati setiap
ruas jalan kecil yang sesak yang dikiri kanannya hanya terlihat batang kayu
kering yang jatuh dari pohon induknya yang besar-besar itu bahkan pula ia tak
jarang harus menuruni lembah yang dalam bahkan kadang harus menerjang beberapa
sungai dengan batunya yang terlihat hitam berbungkus lumut itu seakan jadi
pertanda, akan dengan sangat mudah menjatuhkan siapapun berdiri ataupun tak
sengaja memijakan kaki diatasnnya, telah terhitung sudah tiga sungai besar yang
sudah ia lalui pertanda semakin dekat pada tujuannya. Peluh keringat sesekali
turun dari dahi menuju kumis tipisnnya itu di tebas pergi bahakan acap kali
dengan baju kaos hitamnnya bergambar pahlawan negeri asalnnya Kapitan Patimura
yang tampak gagah dengan parang salawakunya dipakai untuk pengganti sapu tangan
menyeka keringatnnya, cerita-cerita mengenai pahlawan itu acapkali didendangkan
oleh orang tuannya maupun sejumlah guru IPS semasa dia SD dulu hinnga tertanam kuat
dalam otak lelaki itu, hingga baginnya kenangan itu sulit di lupakan walau
sudah sekitar tiga belas tahu silam, namun saat ini tergambar dari wajah lelaki
itu bercampur macam perasaan-perasaan yang lain seakan tergambar keluar dari
wajahnnya kesal, marah, benci atau semacamnya seolah beradu kuat dengan rasa
senangnnya. barangkali jua hal itu –kesenangnya--jadi penyemangat untuk terus
bejalan dan mendaki gunung yang ditumbuhi banyak pohon itu bagaimana tidak ini
adalah untuk kedua kalinnya dia melewati satu rute yang sama namun berbeda
dalam tujuannya, dimana yang lalu itu perjalanan dalam pendakian gunung binaya,
yakni gunungtertinggi di daerah itu yang saat ini matanya masih mencari dimana
puncak tertinggi gunung itu.
Empat tahun lalu adalah saat dimana
dirinya untuk pertama kali menginjakan kaki di tanah ini, bersama kesepuluh
temannya mereka yang dari satu fakultas juga satu program studi menghabiskan
waktu libur panjang akhir semester mereka dengan mendaki gunung itu, juga
karena terpukau dengan alam di sekitar gunung itu maka mereka berani beradu
nyali dan berseteru dengan keliaran hutan itu, yang pada akhirnnya jua menjadi
“sahabat” mereka. Dan bagai dua anak manusia yang sedang jatuh cinta bersama
anak-anak muda itupun berani mengikat janji dengan bongkahan batu gunung dan hutan
besar itu dengan tanpa embel-embel apapun dengan hanya terbesit kata-kata pelan
yang keluar perlahan dari mulut mereka masing-masing “ kami akan kembali lagi”
atau “aku berjanji akan memperkenalkan alammu ini pada dunia di luar sana”
pokoknnya yang pasti hari itu seperti hari yang pilu untuk mereka sebelum
mereke semua pamit untuk kembali pulang.
Kenangan itu akhirnya terulang juga namun kali
ini hanya dirinya seoranglah saja yang berjalan dalam rimba besar ini entah
dimana kesembilan kawannya yang dulu itu, telah didengarnya kabar kalau dari
antara mereka ada yang sudah bekerja pada perusahaan asing di luar maupun di
dalam negeri,ada pula yang melanjutkan kuliah mengambil magister di london dan
ada yang bekerja di kantor bupati entahlah apa benar semua kabar itu dia
sendiri juga tak pernah tahu kebenarannya karena hanya mendengar dari
tetengganya saja, mungkin juga hal itu jadi bahan sindirian buatnnya, maklum
saja sejak kelulusannya tiga tahun dia tak pernah tahu mau kemana atau mau
bekerja di mana.
Karena sudah
hafal betul setiap rute dari jalan ini maka dia tidak terlalu sulit untuk terus
menembus hutan ini walaupun matahari telah pergi dari pandangannya itu namun
dengan berbekal sebuah senter dengan enam baterai dan di bantu sinar bulan yang
terang yang cahayanya menusuk masuk melewati setiap batang kayu besar ini,
dilirik arlojinnya sudah pukul Sembilan malam itu berarti sudah hampir empat
belas jam dia berjalan mungkin ini waktunnya beristirahat, di carinnya tanah
lapang sedikit, dibersihkan dan sebuah tendah tempat untuk dilelepkannya nanti
dua matannya sudah berdiri tegak.
***
“Jadi”
?terdengar suara agak parau muncul tepat depannya
“maksud
ayah ? dia bertanya balik
“Apa
yang nantinnya kau lakukan jika hari esok berakhir??
Pertanyaan
itu sontak membuatnya berhenti dari pekerjaan kecilnya yang sedari tadi hanya
mengores-goreskan sebatang kuas kuning pada sebuah patung kayu kecil yang
setengah telah diberi warna baru olehnnya, sedang ayahnnya duduk manis diatas
kursi agak jauh di depannya dengan terus membolak-balik majalah bola terbitan
hari ini sambil sesekali membetulkan kacamata.tidak salah tidak juga sebuah
kebetulan pertanyan macam itu terlontar dari mulut ayahnya, sedang untuk dirinya
untuk menjawabnya saja terasa sangat sulit, entah apa yang akan dia keluarkan
dari dalam mulutnnya itu sebagai balasan suara tadi agar mampu memberi satu
jawaban dan kepercayaan kuat untuk orang tua itu.kata besok itu berarti besar
baginnya, besok adalah hari dimana dia akan merengkuh title sarajananya setelah
lima tahun tepatnya berkuliah dan besok bisa berarti langkah apa yang harus dia
lakukan, ayahnya pernah menyuruhnya untuk bersekolah lanjut ke luar negeri atau
menjadi seorang PNS saja namun untuk kedua pilihan itu masih terlihat dia ragu
untuk memilih, bersekolah ke luar negeri ? pilihan yang kelihatannya bagus,
siapa yang tak mau pergi dan bersekolah keluar keluar, lagipula itu jua yang
menjadi cita-citanya sejak masih di bangku SMA, entalah hingga detik di jam dinding
terus berlalu dia tetap saja terdiam memikirkan kata-kata orang tua itu,
“
cepatlah membuat keputusan,agar aku dan ibumu dapat mengambil satu langkah
besar nantinnya …
“nanti
saya pikir lagi pak” jawabnya pelan
“Asal
saja jangan sampai kamu terlalu lama “mikir” potong orang tua itu sambil
berlalu dari hadapannya sengan menenteng segelas kopi di tangan kanannya sedang
majalah tadi di taruhnnya dia atas meja begitu saja, dia terdiam seribu bahasa
sambil melihat ayahnya tadi berlalu dibalik dua tiang pintu, pikirnya jawaban
tadi pastinya tidak memuaskan hati ayahnya itu sama sekali, itu karena sudah
tidak terhitung berapa puluh kali dia memberikan jawaban yang sama tatkala
ayahnya juga memberi pertanyaan yang serupa pula, mungkin juga ayahnya bisa menjadi
marah karena mendengar jawaban tadi, karena hal ini bukan tanpa alasan
teman-temanya seangkatan sudah mempunyai rencana besar jika diwisudakan
nantiseperti melanjutkan pendidikan ke luar negeri, maklum saja jika ayahnya
terus memaksa itu karena dia pun ingin melihat anaknya mampu bersaing dengan
anak lainnya di kawasan mereka yang terlihat dihuni oleh kaum kalangan atas itu
dan juga bagai sudah menjadi tradisi untuk mengangkat muka orang tua serta
menunjukan kekuatan finansial mereka dari tiap-tiap keluarga di situ, namun
hal-hal seperti itulah yang membuatnya
muak dengan kehidupan yang penuh kompetisi seperti itu, mungkin karena jiwa
yang tertanam dalam darahnya itu adalah jiwa sosial yang mana tak ingin
menghabiskan harta untuk kehidupan yang glamor namun baginnya dunia terasa
indah bilamana apa yang lebih pada kita sedia denganikhlas mau berbagi dengan
sesama karena harta dunia ini pada dasarnnya hanya titipan kecil yang Kuasa
untuk setiap insan manusia.
***
Sinar matahari pagi hadir menusuk melewati
setiap batang pohon-pohon menimbulkan bayangan besar dalam hutan itu dengan
hangat memukul wajahnnya dan dia kemudian terbangun untuk mengemasi barang-barang
dan melanjutkan perjalanan lagi. Sungai besar lagi-lagi di lewatinnya dan yang
ini adalah jadi sungai yang terakhir untuknya, sungai ini yang lebarnya seratus
lima puluh meteran terbentang didepannya mengalir dengan derasnnya, sungai ini
memang tidak biasanya sederas ini namun kali ini karena hujan besar beberapa
waktu lalu mungkin telah membawa banjir besar. Sedang di sebelah sungai
terlihat serumpunan pohon pisang raja yang beberapa buahnya sudah mulai
menguning, dan dengan berani dia menerjang sungai itu menenteng tas hitamnya di
atas kepala, menyebrang dengan selamat ke seberang. Dari atas ketinggian bukit
dilihatnnya ke bawah terlihat asap api yang naik dan tampak rumah para penduduk
di bawah lembah tepat di bawah kakinnya. “Selamat datang dikampong Batu ”
terpampang di sebuah gapura ucapan selamat datang menyambutnnya,gapura yang
hanya terbuat dari dua kayu penyangga dan tanpa sentuhan keindahan seperti
lukisan atau mungkin membuatnnya lebih kuat dari beton barangkali, yah tapi itu
adalah satu hal istimewa dan unik dari kampung kecil “Manusela” ini. Kakinnya
diayunkan di tengah kampung, terlihat anak-anak kecil sedang berlarian dan
berkejaran satu sama lain, separuh dari mereka bahkan telanjang, tak pakai baju
atau hanya baju yang dipakai celana tak ada, sedang orang dewasa terlihat
duduk-duduk di depan rumah dengan sehelai kain merah terikat di kepala mereka
sedang yang wanitannya menggendong anak mereka sambil
mengunyah pinang dan sesekali menyumbur ludah merah bak darah dari mulut mereka,
ini adalah potret yang sama tak ada yang
berubah samas sekali dengan kedatangannya yang pertama, langkahnnya pun
terhenti didepan rumah besar yang sebagiannya terbuat dari batang pohon sagu,
sedang dari dalam keluar seorang pemuda yang seumuran dengannya menyambutnnya dengan senyum khas menunjukan
giginnya yang merah sama seperti kain merah dikepalannya itu,
“wah
kamu menempati janjimu untuk kembali lagi” suara orang itu yang tak lain adalah
kepala kampung itu, walaupun masih terlihat muda namun dia berasal dari garis
keturunan sebagai orang yang pantas mengepalai desa itu.
“
ia, aku tidak akan pernah lupa dengan janji itu”
“tapi
kenapa lebih cepat??” tanyanya kembali sambil menghentar masuk pemuda itu ke
dalam rumah. Mereka berdua kemudian berbincang ria pada pertemuan mereka itu,
maklumlah begitulah jadinnya jika seseorang bertemu kawan lama. Pembicaraan
mereka di siang iitu mencakup banyak hal mulai dari kehudupan kelurga besar
mereka hingga hal apa saja yang mereka lakukan selepas perpisahan mereka waktu
itu. Sediannya pemuda ini adalah orang yang menjadi tur guide bagi dia dan temen-temannya saat mendaki puncak binaya,
maklum saja orang ini sudah paham betul keliaran hutan di sekitaran sini karena
bagi dia hutan adalah segalanya, rumah, ibu dan tempat mencari makan dan tempat
berbagi segala rasa dalam hatinnya mungkin saja semua hal itu sudah diwariskan
leluhurnnya agar mampu dan terus menjaga hutan yang masih perawan ini.
“
jadi perjalanan ini juga bagian dari pelarianmu?”
“yah
seperti yang telah kau ketahui”
“untuk
apa kau lari ke sini, dari kedua orang tuamu?, tempat ini bisa saja jadi
penjara bagimu, saranku lebih baik kau kembali dan melanjutkan sekolahmu?”
Ditatapnya
manusia yang duduk di depannya itu, walau hidupnnya dihabiskan di pedalaman
seperti ini tapi gaya bicarannya tergolong seperti orang yang berpendidikan, ah
teringat sudah dia bahwa pernah ada yang katakana padannya bahwa lelaki ini
memang lulusan SMA di ibu kota kecamatan, entah apa nama sekolahnnya, yang
pasti bisa di yakini hal itu benar.
“ini
bukan pelarian biasa, aku hanya mau datang kesini untuk menenangkan diri saja,
aku ingin berbagi ilmuku kepada masyarakat di sini terlebh pada anak-anak
tadi?”
“
maksudmu kau ingin mengajar mereka?”
“
ya,lima tahun aku habiskan untuk menimba ilmu di Univeritas apa salahnnya kalau
aku membaginya walau sedikit pada mereka”
Lelaki
itu berpikir sebentar
“baiklah
aku akan mengadakan pertemuan dengan orang tua mereka malam nanti, agar mereka
dapat memberitahu anak-anak mereka pula,dan kau pergilah istirahat kau
kelihatan sangat lelah”
***
Pagi
yang pertama di kampung ini sambil merasakan dinginnnya udara, dia berjalan
kecil, waktu kira-kira jam tujuh, lalu di hampirinnya kepala kampung itu
“
jadi apa keputusan semalam?”
“mereka
setuju, kau bisa membantu mengajar anak-anak mereka, karena dua guru mereka
sedang ke kota dan belum pernah kembali sejak satu bulan yang lalu. Hanya ada
satu guru saja jadi kau bisabersama-sama
dengannya mengajar”
Hari
itu adalah hari pertama dalam hidupnnya menjadi seorang pengajar, di hadapnnya
duduk sepuluh murid kelas 4, yang masing-masing dari mereka hanya membawa satu
buku dan satu pena, ada pula yang hanya membawa pena dan selebihnya merobek
kertas buku punya teman disamping mereka, jika di perhatikan memang yang
membawa buku hanya enam murid perempuan yang duduk di barisan depan sedang
empat murid lelaki duduk di belakang. Pelajaran matematika adalah yang pertam
dia ajarkan di pagi itu, setelahnnya bahasa Indonesia hinnga kira-kira pukul
sebelas siang, dan dilihatnnya anak-anak itu sudah mulai bosan, ada yang
mengantuk, ada pula yang bercerita dengan teman yang lain. pikirnnya sudah
waktunya untuk memulangkan mereka, pastilah bermain dan berlari di tengah hutan,
mencari udang di sungai,dan bermain petak umpet adalah hal yang lebih
menyenangkan untuk mereka ketimbang harus mendengarnya berceloteh di depan
kelas.
Empat
bulan berlalu sudah berlalu ternyata menjadi seorang guru itu sulit, apalagi di
tempat seperti ini, dia harus mengerti betul karakter anak-anak si disini yang
boleh dikatakan sifat mereka masih asli menyatu dengan alam,kadang dia
haruspergi berjalan menuju ke kebun-kebun mereka kadang memanggil mereka cara
ber-huele(bersuara besar) yang
membelah hutan, atau menjemput mereka keluar dari sungai-sungai besaruntuk
mengajak mereka menuju ke kelas. Mungkinjua hal yang biasa ia lakukan inilah
yang menjadi penyebab dua guru yang lain pergi dan tak kembali namun entalah
yang pasti baginnya ini adalah satu pengalaman yang tak akan terlupakan satu
saat nanti.
***
“ada
kiriman dari kota untukmu” suara sesorang dari belakang mengagetkannya, yang
tak lain adalah kepala kampung itu
“untuk
saya, memangnnya dari siapa??
“saya
tidak tahu, tidak ada nama pengirimnya” sambil dia menyodorkan sepucuk surat.
Memang
dia benar kata lelaki itu tidak ada Nama pengirim yang tertera pada surat
berwarna cokelat itu. Malam itu dia dengan diterangi cahaya sebuah pelita, yang
apinya hampir padam di tiup angin lembah yang membawa hawa dingin yang sangat,
perlahan matanya membaca seluruh isi surat itu, tak sadar titik-titik air yang
keluar dari kedua matanya turun dan membasahi kertas putih yang di pegangnya itu.
Entah tangisannya itu haru karena senang atau memang benar dia merasa sedih
yang sangat, sebab surat itu dan pengirimnnya yang tak lain adalah ayahnnya
sendiri. Selain itu karena di dalam surat itu masih terselip sebuah surat lagi
tertera di dalam kop surat itu “Auckland University”, ini artinya dia di terima
bersekolah untuk mengambil magister di Universitas terbaik di Selandia Baru itu
sejak mengirimkan e-mail dan segala persyaratn penerima beasiswa untuk
universitas itu enam bulan yang lalu. Di raihnya sebuah karton kuning sedang yang
menjadi satu paket dengan kiriman surat itu disobeknnya dan mengeluarkan
isinya, di taruh seluruhnya di dalam tas ransel hitam besarnnya itu entah apa
isinya.
Pagi
yang kesekian kali untuknnya ditempat itu terasa berbeda dari biasanya, di raih
tas ransel besarnya itu dan berjalan keluar menuju ujung perkampungan itu
Hingga...........
“Good
morning students”
Terdengar
cekikikan keluar dari mulut-mulut mungil anak-anak kampung itu, kata itu terasa
asing untuk mereka, yang tiap harinya berbicara dengan bahasa kampung mereka
saja
“
hari ini kita melanjutkan pelajaran bahasa inggris” suaranya menggema di kelas
Senyum
terlintas di wajahnya senyum penuh cinta bagi anak-anak yang hidup di bawah
puncak gunung Binaya itu setelah melihat mereka semua memakai baju seragam hari
itu, yang beberapa menit yang lalu tadi saling berebutan untuk mengambilnnya
dari tas ransel hitam besarnya itu. Sedang di rumah sang kepala kampung
terletak sebuah surat yang pada akhir kalimatnya hanya tertulis
“Keputusan
hidup ada dalam tanganmu…..”
(*)
Ambon,
Januari 2015