Selasa, 17 Maret 2015

Cerpen ada cinta di puncak gunung Binaya



Ada Cinta di puncak gunung Binaya
Panas dan dinginnya cuaca saling bergantian, seolah hanya mereka yang berada di puncak gunung bertaburan ribuan kayu yang setiap batangnya dari kejauhan tampak hanya bagai secuil kotor di ujung kuku, namun berdiri kokoh dan terhempar luas di seluruh gunung dan anak gunungnnya, kayu-kayu macam lenggua, maholi,samama,dan besi yang rata-rata diberi nama oleh penduduk sekitaran gunung itu.tetapi perlahan semua  kayu tadi makin bertambah besar  bahkan terlihat tingginnya seraya seorang lelaki muda melaluinnya,namun semua itu terasa berbeda dengan seorang ini. Dengan tubuh yang kurus dirinya seorang diri berani menembus hutan belantara itu, yah hanya dia sendirian dengan di topang dua kaki terkuatnnya sambil memikul tas ranselnya yang hitam besar dia berjalan sendirian melewati setiap ruas jalan kecil yang sesak yang dikiri kanannya hanya terlihat batang kayu kering yang jatuh dari pohon induknya yang besar-besar itu bahkan pula ia tak jarang harus menuruni lembah yang dalam bahkan kadang harus menerjang beberapa sungai dengan batunya yang terlihat hitam berbungkus lumut itu seakan jadi pertanda, akan dengan sangat mudah menjatuhkan siapapun berdiri ataupun tak sengaja memijakan kaki diatasnnya, telah terhitung sudah tiga sungai besar yang sudah ia lalui pertanda semakin dekat pada tujuannya. Peluh keringat sesekali turun dari dahi menuju kumis tipisnnya itu di tebas pergi bahakan acap kali dengan baju kaos hitamnnya bergambar pahlawan negeri asalnnya Kapitan Patimura yang tampak gagah dengan parang salawakunya dipakai untuk pengganti sapu tangan menyeka keringatnnya, cerita-cerita mengenai pahlawan itu acapkali didendangkan oleh orang tuannya maupun sejumlah guru IPS semasa dia SD dulu hinnga tertanam kuat dalam otak lelaki itu, hingga baginnya kenangan itu sulit di lupakan walau sudah sekitar tiga belas tahu silam, namun saat ini tergambar dari wajah lelaki itu bercampur macam perasaan-perasaan yang lain seakan tergambar keluar dari wajahnnya kesal, marah, benci atau semacamnya seolah beradu kuat dengan rasa senangnnya. barangkali jua hal itu –kesenangnya--jadi penyemangat untuk terus bejalan dan mendaki gunung yang ditumbuhi banyak pohon itu bagaimana tidak ini adalah untuk kedua kalinnya dia melewati satu rute yang sama namun berbeda dalam tujuannya, dimana yang lalu itu perjalanan dalam pendakian gunung binaya, yakni gunungtertinggi di daerah itu yang saat ini matanya masih mencari dimana puncak tertinggi gunung itu.
            Empat tahun lalu adalah saat dimana dirinya untuk pertama kali menginjakan kaki di tanah ini, bersama kesepuluh temannya mereka yang dari satu fakultas juga satu program studi menghabiskan waktu libur panjang akhir semester mereka dengan mendaki gunung itu, juga karena terpukau dengan alam di sekitar gunung itu maka mereka berani beradu nyali dan berseteru dengan keliaran hutan itu, yang pada akhirnnya jua menjadi “sahabat” mereka. Dan bagai dua anak manusia yang sedang jatuh cinta bersama anak-anak muda itupun berani mengikat janji dengan bongkahan batu gunung dan hutan besar itu dengan tanpa embel-embel apapun dengan hanya terbesit kata-kata pelan yang keluar perlahan dari mulut mereka masing-masing “ kami akan kembali lagi” atau “aku berjanji akan memperkenalkan alammu ini pada dunia di luar sana” pokoknnya yang pasti hari itu seperti hari yang pilu untuk mereka sebelum mereke semua pamit untuk kembali pulang.
 Kenangan itu akhirnya terulang juga namun kali ini hanya dirinya seoranglah saja yang berjalan dalam rimba besar ini entah dimana kesembilan kawannya yang dulu itu, telah didengarnya kabar kalau dari antara mereka ada yang sudah bekerja pada perusahaan asing di luar maupun di dalam negeri,ada pula yang melanjutkan kuliah mengambil magister di london dan ada yang bekerja di kantor bupati entahlah apa benar semua kabar itu dia sendiri juga tak pernah tahu kebenarannya karena hanya mendengar dari tetengganya saja, mungkin juga hal itu jadi bahan sindirian buatnnya, maklum saja sejak kelulusannya tiga tahun dia tak pernah tahu mau kemana atau mau bekerja di mana.
Karena sudah hafal betul setiap rute dari jalan ini maka dia tidak terlalu sulit untuk terus menembus hutan ini walaupun matahari telah pergi dari pandangannya itu namun dengan berbekal sebuah senter dengan enam baterai dan di bantu sinar bulan yang terang yang cahayanya menusuk masuk melewati setiap batang kayu besar ini, dilirik arlojinnya sudah pukul Sembilan malam itu berarti sudah hampir empat belas jam dia berjalan mungkin ini waktunnya beristirahat, di carinnya tanah lapang sedikit, dibersihkan dan sebuah tendah tempat untuk dilelepkannya nanti dua matannya sudah berdiri tegak.
***
“Jadi” ?terdengar suara agak parau muncul tepat depannya
“maksud ayah ? dia bertanya balik
“Apa yang nantinnya kau lakukan jika hari esok berakhir??
Pertanyaan itu sontak membuatnya berhenti dari pekerjaan kecilnya yang sedari tadi hanya mengores-goreskan sebatang kuas kuning pada sebuah patung kayu kecil yang setengah telah diberi warna baru olehnnya, sedang ayahnnya duduk manis diatas kursi agak jauh di depannya dengan terus membolak-balik majalah bola terbitan hari ini sambil sesekali membetulkan kacamata.tidak salah tidak juga sebuah kebetulan pertanyan macam itu terlontar dari mulut ayahnya, sedang untuk dirinya untuk menjawabnya saja terasa sangat sulit, entah apa yang akan dia keluarkan dari dalam mulutnnya itu sebagai balasan suara tadi agar mampu memberi satu jawaban dan kepercayaan kuat untuk orang tua itu.kata besok itu berarti besar baginnya, besok adalah hari dimana dia akan merengkuh title sarajananya setelah lima tahun tepatnya berkuliah dan besok bisa berarti langkah apa yang harus dia lakukan, ayahnya pernah menyuruhnya untuk bersekolah lanjut ke luar negeri atau menjadi seorang PNS saja namun untuk kedua pilihan itu masih terlihat dia ragu untuk memilih, bersekolah ke luar negeri ? pilihan yang kelihatannya bagus, siapa yang tak mau pergi dan bersekolah keluar keluar, lagipula itu jua yang menjadi cita-citanya sejak masih di bangku SMA, entalah hingga detik di jam dinding terus berlalu dia tetap saja terdiam memikirkan kata-kata orang tua  itu,
“ cepatlah membuat keputusan,agar aku dan ibumu dapat mengambil satu langkah besar nantinnya …
“nanti saya pikir lagi pak” jawabnya pelan
“Asal saja jangan sampai kamu terlalu lama “mikir” potong orang tua itu sambil berlalu dari hadapannya sengan menenteng segelas kopi di tangan kanannya sedang majalah tadi di taruhnnya dia atas meja begitu saja, dia terdiam seribu bahasa sambil melihat ayahnya tadi berlalu dibalik dua tiang pintu, pikirnya jawaban tadi pastinya tidak memuaskan hati ayahnya itu sama sekali, itu karena sudah tidak terhitung berapa puluh kali dia memberikan jawaban yang sama tatkala ayahnya juga memberi pertanyaan yang serupa pula, mungkin juga ayahnya bisa menjadi marah karena mendengar jawaban tadi, karena hal ini bukan tanpa alasan teman-temanya seangkatan sudah mempunyai rencana besar jika diwisudakan nantiseperti melanjutkan pendidikan ke luar negeri, maklum saja jika ayahnya terus memaksa itu karena dia pun ingin melihat anaknya mampu bersaing dengan anak lainnya di kawasan mereka yang terlihat dihuni oleh kaum kalangan atas itu dan juga bagai sudah menjadi tradisi untuk mengangkat muka orang tua serta menunjukan kekuatan finansial mereka dari tiap-tiap keluarga di situ, namun hal-hal seperti  itulah yang membuatnya muak dengan kehidupan yang penuh kompetisi seperti itu, mungkin karena jiwa yang tertanam dalam darahnya itu adalah jiwa sosial yang mana tak ingin menghabiskan harta untuk kehidupan yang glamor namun baginnya dunia terasa indah bilamana apa yang lebih pada kita sedia denganikhlas mau berbagi dengan sesama karena harta dunia ini pada dasarnnya hanya titipan kecil yang Kuasa untuk setiap insan manusia.
***
      Sinar matahari pagi hadir menusuk melewati setiap batang pohon-pohon menimbulkan bayangan besar dalam hutan itu dengan hangat memukul wajahnnya dan dia kemudian terbangun untuk mengemasi barang-barang dan melanjutkan perjalanan lagi. Sungai besar lagi-lagi di lewatinnya dan yang ini adalah jadi sungai yang terakhir untuknya, sungai ini yang lebarnya seratus lima puluh meteran terbentang didepannya mengalir dengan derasnnya, sungai ini memang tidak biasanya sederas ini namun kali ini karena hujan besar beberapa waktu lalu mungkin telah membawa banjir besar. Sedang di sebelah sungai terlihat serumpunan pohon pisang raja yang beberapa buahnya sudah mulai menguning, dan dengan berani dia menerjang sungai itu menenteng tas hitamnya di atas kepala, menyebrang dengan selamat ke seberang. Dari atas ketinggian bukit dilihatnnya ke bawah terlihat asap api yang naik dan tampak rumah para penduduk di bawah lembah tepat di bawah kakinnya. “Selamat datang dikampong Batu ” terpampang di sebuah gapura ucapan selamat datang menyambutnnya,gapura yang hanya terbuat dari dua kayu penyangga dan tanpa sentuhan keindahan seperti lukisan atau mungkin membuatnnya lebih kuat dari beton barangkali, yah tapi itu adalah satu hal istimewa dan unik dari kampung kecil “Manusela” ini. Kakinnya diayunkan di tengah kampung, terlihat anak-anak kecil sedang berlarian dan berkejaran satu sama lain, separuh dari mereka bahkan telanjang, tak pakai baju atau hanya baju yang dipakai celana tak ada, sedang orang dewasa terlihat duduk-duduk di depan rumah dengan sehelai kain merah terikat di kepala mereka sedang yang wanitannya menggendong anak mereka sambil mengunyah pinang dan sesekali menyumbur ludah merah bak darah dari mulut mereka, ini adalah  potret yang sama tak ada yang berubah samas sekali dengan kedatangannya yang pertama, langkahnnya pun terhenti didepan rumah besar yang sebagiannya terbuat dari batang pohon sagu, sedang dari dalam keluar seorang pemuda yang seumuran dengannya  menyambutnnya dengan senyum khas menunjukan giginnya yang merah sama seperti kain merah dikepalannya itu,
“wah kamu menempati janjimu untuk kembali lagi” suara orang itu yang tak lain adalah kepala kampung itu, walaupun masih terlihat muda namun dia berasal dari garis keturunan sebagai orang yang pantas mengepalai desa itu.
“ ia, aku tidak akan pernah lupa dengan janji itu”
“tapi kenapa lebih cepat??” tanyanya kembali sambil menghentar masuk pemuda itu ke dalam rumah. Mereka berdua kemudian berbincang ria pada pertemuan mereka itu, maklumlah begitulah jadinnya jika seseorang bertemu kawan lama. Pembicaraan mereka di siang iitu mencakup banyak hal mulai dari kehudupan kelurga besar mereka hingga hal apa saja yang mereka lakukan selepas perpisahan mereka waktu itu. Sediannya pemuda ini adalah orang yang menjadi tur guide bagi dia dan temen-temannya saat mendaki puncak binaya, maklum saja orang ini sudah paham betul keliaran hutan di sekitaran sini karena bagi dia hutan adalah segalanya, rumah, ibu dan tempat mencari makan dan tempat berbagi segala rasa dalam hatinnya mungkin saja semua hal itu sudah diwariskan leluhurnnya agar mampu dan terus menjaga hutan yang masih perawan ini.
“ jadi perjalanan ini juga bagian dari pelarianmu?”
“yah seperti yang telah kau ketahui”
“untuk apa kau lari ke sini, dari kedua orang tuamu?, tempat ini bisa saja jadi penjara bagimu, saranku lebih baik kau kembali dan melanjutkan sekolahmu?”
Ditatapnya manusia yang duduk di depannya itu, walau hidupnnya dihabiskan di pedalaman seperti ini tapi gaya bicarannya tergolong seperti orang yang berpendidikan, ah teringat sudah dia bahwa pernah ada yang katakana padannya bahwa lelaki ini memang lulusan SMA di ibu kota kecamatan, entah apa nama sekolahnnya, yang pasti bisa di yakini hal itu benar.
“ini bukan pelarian biasa, aku hanya mau datang kesini untuk menenangkan diri saja, aku ingin berbagi ilmuku kepada masyarakat di sini terlebh pada anak-anak tadi?”
“ maksudmu kau ingin mengajar mereka?”
“ ya,lima tahun aku habiskan untuk menimba ilmu di Univeritas apa salahnnya kalau aku membaginya walau sedikit pada mereka”
Lelaki itu berpikir sebentar
“baiklah aku akan mengadakan pertemuan dengan orang tua mereka malam nanti, agar mereka dapat memberitahu anak-anak mereka pula,dan kau pergilah istirahat kau kelihatan sangat lelah”
***
Pagi yang pertama di kampung ini sambil merasakan dinginnnya udara, dia berjalan kecil, waktu kira-kira jam tujuh, lalu di hampirinnya kepala kampung itu
“ jadi apa keputusan semalam?”
“mereka setuju, kau bisa membantu mengajar anak-anak mereka, karena dua guru mereka sedang ke kota dan belum pernah kembali sejak satu bulan yang lalu. Hanya ada satu guru saja jadi kau  bisabersama-sama dengannya mengajar”
Hari itu adalah hari pertama dalam hidupnnya menjadi seorang pengajar, di hadapnnya duduk sepuluh murid kelas 4, yang masing-masing dari mereka hanya membawa satu buku dan satu pena, ada pula yang hanya membawa pena dan selebihnya merobek kertas buku punya teman disamping mereka, jika di perhatikan memang yang membawa buku hanya enam murid perempuan yang duduk di barisan depan sedang empat murid lelaki duduk di belakang. Pelajaran matematika adalah yang pertam dia ajarkan di pagi itu, setelahnnya bahasa Indonesia hinnga kira-kira pukul sebelas siang, dan dilihatnnya anak-anak itu sudah mulai bosan, ada yang mengantuk, ada pula yang bercerita dengan teman yang lain. pikirnnya sudah waktunya untuk memulangkan mereka, pastilah bermain dan berlari di tengah hutan, mencari udang di sungai,dan bermain petak umpet adalah hal yang lebih menyenangkan untuk mereka ketimbang harus mendengarnya berceloteh di depan kelas.
Empat bulan berlalu sudah berlalu ternyata menjadi seorang guru itu sulit, apalagi di tempat seperti ini, dia harus mengerti betul karakter anak-anak si disini yang boleh dikatakan sifat mereka masih asli menyatu dengan alam,kadang dia haruspergi berjalan menuju ke kebun-kebun mereka kadang memanggil mereka cara ber-huele(bersuara besar) yang membelah hutan, atau menjemput mereka keluar dari sungai-sungai besaruntuk mengajak mereka menuju ke kelas. Mungkinjua hal yang biasa ia lakukan inilah yang menjadi penyebab dua guru yang lain pergi dan tak kembali namun entalah yang pasti baginnya ini adalah satu pengalaman yang tak akan terlupakan satu saat nanti.
***
“ada kiriman dari kota untukmu” suara sesorang dari belakang mengagetkannya, yang tak lain adalah kepala kampung itu
“untuk saya, memangnnya dari siapa??
“saya tidak tahu, tidak ada nama pengirimnya” sambil dia menyodorkan sepucuk surat.
Memang dia benar kata lelaki itu tidak ada Nama pengirim yang tertera pada surat berwarna cokelat itu. Malam itu dia dengan diterangi cahaya sebuah pelita, yang apinya hampir padam di tiup angin lembah yang membawa hawa dingin yang sangat, perlahan matanya membaca seluruh isi surat itu, tak sadar titik-titik air yang keluar dari kedua matanya turun dan membasahi kertas putih yang di pegangnya itu. Entah tangisannya itu haru karena senang atau memang benar dia merasa sedih yang sangat, sebab surat itu dan pengirimnnya yang tak lain adalah ayahnnya sendiri. Selain itu karena di dalam surat itu masih terselip sebuah surat lagi tertera di dalam kop surat itu “Auckland University”, ini artinya dia di terima bersekolah untuk mengambil magister di Universitas terbaik di Selandia Baru itu sejak mengirimkan e-mail dan segala persyaratn penerima beasiswa untuk universitas itu enam bulan yang lalu. Di raihnya sebuah karton kuning sedang yang menjadi satu paket dengan kiriman surat itu disobeknnya dan mengeluarkan isinya, di taruh seluruhnya di dalam tas ransel hitam besarnnya itu entah apa isinya.
Pagi yang kesekian kali untuknnya ditempat itu terasa berbeda dari biasanya, di raih tas ransel besarnya itu dan berjalan keluar menuju ujung perkampungan itu
Hingga...........
“Good morning students”
Terdengar cekikikan keluar dari mulut-mulut mungil anak-anak kampung itu, kata itu terasa asing untuk mereka, yang tiap harinya berbicara dengan bahasa kampung mereka saja
“ hari ini kita melanjutkan pelajaran bahasa inggris” suaranya menggema di kelas
Senyum terlintas di wajahnya senyum penuh cinta bagi anak-anak yang hidup di bawah puncak gunung Binaya itu setelah melihat mereka semua memakai baju seragam hari itu, yang beberapa menit yang lalu tadi saling berebutan untuk mengambilnnya dari tas ransel hitam besarnya itu. Sedang di rumah sang kepala kampung terletak sebuah surat yang pada akhir kalimatnya hanya tertulis
“Keputusan hidup ada dalam tanganmu…..”
(*)
Ambon, Januari 2015





Tidak ada komentar:

Posting Komentar